"Gampang Masuk Susah Keluar" ... Itulah kilasan kalimat yang tak aneh terdengar di telinga ku sampai saat ini. Kalimat itu pertama kali aku dengar ketika aku masuk ke dalam sebuah UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) di kampus. Memang betul,, kalimat itu benar-benar mendarah daging di dalam kehidupanku. Aku pun awalnya tak mengerti dan tidak pernah membayangkan bahwa aku akan menjadi salah satu anggota di UKM itu. Bahkan awalnya aku sempat tidak menyukainya.
UKM itu bernama KPAP Gentra Seba yang didirikan pada tahun 1991. KPAP Gentra Seba merupakan kelompok paduan angklung Pak Daeng yang berada di kampus STBA YAPARI ABA Bandung. Dan aku mulai masuk dan mendaftar menjadi anggota pada tahun 2009. Saat itu aku baru kuliah semester I. Di awal aku mengikuti latihan ya biasalah semangatnya masih menggebu sampai pada akhirnya aku diikutsertakan untuk bermain angklung di acara Wisuda (2009). Namun di tengah semester I aku mulai jarang ikut latihan dengan berbagai macam alasan yang aku buat.
Barulah di awal semester II aku mulai rutin mengikuti latihan. Dengan banyak mengikuti latihan aku diikutsertakan dalam berbagai acara. Di mulai dari acara yang biasa sampai acara yang istimewa.
Dengan mengikuti bermusik angklung, aku bisa mendapatkan banyak pengalaman dan bisa mengunjungi tempat-tempat yang baru, bahkan aku bisa bertemu dengan pejabat ya walaupun pejabat2 tertentu sih tapi aku bersyukur banget bisa "terdampar" di angklung.
Gara-gara angklung juga aku bisa kembali lagi ke almamaterku. Di almamater itulah aku pun diharuskan untuk mengajarkan musik angklung kepada adik-adik kelas ku. Aku pun mulai melatihkannya di akhir tahun 2010 yang lalu. Aku pun merasa senang karena angklung, kepala sekolah di almamaterku bisa tersenyum saat adik-adik kelasku menampilkan satu buah lagu (Hymne Guru) dengan iringan angklung.
Dengan mengikuti bermusik angklung, aku bisa mendapatkan banyak pengalaman dan bisa mengunjungi tempat-tempat yang baru, bahkan aku bisa bertemu dengan pejabat ya walaupun pejabat2 tertentu sih tapi aku bersyukur banget bisa "terdampar" di angklung.
Gara-gara angklung juga aku bisa kembali lagi ke almamaterku. Di almamater itulah aku pun diharuskan untuk mengajarkan musik angklung kepada adik-adik kelas ku. Aku pun mulai melatihkannya di akhir tahun 2010 yang lalu. Aku pun merasa senang karena angklung, kepala sekolah di almamaterku bisa tersenyum saat adik-adik kelasku menampilkan satu buah lagu (Hymne Guru) dengan iringan angklung.
Nah... dengan adanya penawaran untuk melatih angklung di almamater jadinya semakin sulit buat aku untuk keluar dari "Perangklungan"..... hufftthhhh :'( tapi tak apalah itung-itung nyari ilmu+ngamalin ilmu. Semoga tidak pernah dirugikan dan mendapat banyak manfaat. Ameennn :))

